Wednesday, November 06, 2019

Democracy and Continuing Marginalization of Women in Indonesian Politics

Authors: Abubakar Eby Hara, Agus Trihartono and Nino Viartasiwi.
Although much progress and efforts have been made to increase women’s participation in politics, the main idea of women’s involvement in politics has not yet penetrated into the mainstream of Indonesian politics. The main idea is not only a representation of the number of female population but also the representation that will bring new norms for Indonesian politics that has been so far dominated by the assumption of masculinity based on power politics and struggle to control resources by one party for the loss of others. This paper seeks to see how this marginalization of women continues to occur. One of the reasons for this cannot be separated from the waning of the reform spirit that inspired the reformation. Slowly but surely Indonesian politics is re-defined in term of power struggles by all means including by corruption, collusion, and nepotism that was once the object of criticism of reform groups. In this context, it is often the case that if women want to succeed in politics, they must follow such political norms and abandons the idealism of their struggle. In fact, such women politicians not only abandon the ideal of feminist struggle but reinforce the assumption that politics is the world of men. For full paper, please see https://www.e3s-conferences.org/articles/e3sconf/abs/2018/48/e3sconf_icenis18_11005/e3sconf_icenis18_11005.html

Tuesday, November 05, 2019

The struggle to uphold a regional human rights regime: the winding role of ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR)

Please visit my latest article published in Revista Brasileira de PolĂ­tica Internacional ISSN 1983-3121 Vol. 62, No. 1, 2019. DOI: http://dx.doi.org/10.1590/0034-7329201900111 The struggle to uphold a regional human rights regime: the winding role of ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR) Abstract
This paper examines the ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights’ (AICHR) role in upholding human rights by using the perspective of the human rights regime theory. In this perspective, AICHR is still behind other regional human rights bodies, such as the Inter-American Commission on Human Rights (IACHR). The AICHR has passed the declaratory regime, but has not been in the stages of implementation or enforcement regime. Efforts from human rights proponents are expected to elevate the role of the AICHR. Keywords: ASEAN; AICHR; IACHR; civil society organization; regime theory.

Tuesday, October 22, 2019

ASEAN Paradigm Shift from a State to People-Oriented Organization: A Neo-Communitarian Perspective

By MOHD AZIZUDDIN MOHD SANI and ABUBAKAR EBY HARA 
This paper attempts to examine the paradigm shift in ASEAN from a state-based to a people-based organization. We argue that by adopting a people-based organization, ASEAN now enters an era of Neo-Communitarianism replacing the Old Communitarianism of the old generation of ASEAN. By using communitarian perspectives, we look at the continuities and changes in ASEAN with regard to how it deals with issues involving their members. Three important issues namely the debates on intervention principle; the adoption of the three pillars of the ASEAN Community; and the inclusion of human rights are seen as the signposts where ASEAN departs from their Old to a Neo-Communitarianism. Although there have been a lot of challenges to the realization of the people-based organization, we see that the dynamics of debates and the active participation of the community in the debates show good prospects for the new paradigm to realize. In this paper, we use debate on the formation of ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (ICHR), to show the involvements of people in setting the agendas for the future ASEAN. 
In Japanese Journal of Political Science, Get access Volume 14, Issue 3September 2013 , pp. 379-394. It can be seen at https://www.researchgate.net/publication/259435186_ASEAN_Paradigm_Shift_from_a_State_to_People-Oriented_Organization_A_Neo-Communitarian_Perspective

Sunday, September 01, 2019

The Creation of Corporate Knowledge and Innovation among Indonesia's Batik Producers: A Case Study of Four Main Areas of Batik Production in Jawa

Written by Puji Wahono and Abubakar Eby Hara
Creation of corporate knowledge is generally recognized as crucial for innovation. Through a combination of tacit and explicit knowledge, companies can develop a concept or model of operation that is not easily imitated, and which can serve as the main source of their competitive advantage. Unfortunately, not much research has been done on how this ‘corporate knowledge’ is created, so both theories and information on knowledge creation is limited. This study attempts to examine select cases of creative creation of such knowledge in the traditionally family run batik industry in Java, Indonesia. The results of this study reveal that such a process of knowledge exists in the batik industry and is one of the factors that allow it to thrive. The primary method used in this study is the multivariate technique, which was used in tandem with SEM statistics and Lisrel software, to survey 220 batik businesses in Yogyakarta, Solo, Cirebon and Pekalongan. It was found that the most important stage in the process of knowledge creation is the conversion of tacit knowledge into explicit knowledge. The company's environmental conditions are also very important for the creation of knowledge processes
International Journal of Business and Society, Vol. 20 No.1, 2019, 299-310
http://www.ijbs.unimas.my/images/repository/pdf/Vol20-no1-paper19.pdf
Sumber foto: Antara Foto https://www.antarafoto.com/mudik/v1341317101/produksi-batik

Wednesday, July 17, 2019

I Cried for My Brother Six Times

Aku Menangis untuk Adikku
Penulis : Ratu Karitasurya

KotaSantri.com : Aku dilahirkan di sebuah dusun
pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari,
orangtuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung
mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang
adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang
mana semua gadis di sekelilingku kelihatan membawanya,
aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah
segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku
berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu
di tangannya.

"Siapa yang mencuri uang itu?" beliau bertanya. Aku
terpaku, terlalu takut untuk berbicara.

Ayah tidak mendengar siapapun mengaku, jadi beliau
mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua
layak dipukul!"

Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi.
Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata,
"Ayah, aku yang melakukannya! "

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku
bertubi-tubi. Ayah begitu marah, sehingga ia terus
menerus mencambukinya sampai beliau kehabisan nafas.

Sesudahnya, beliau duduk di atas ranjang batu bata
kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari
rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu
lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai
mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan
kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak
menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam
itu, aku tiba-tiba mulai menangis meraung-raung.
Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan
berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya
sudah terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki
cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun
telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan
seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa
tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu,
adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia
lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat
yang sama, aku diterima untuk masuk ke sebuah
universitas propinsi.

Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok
tembakaunya, bungkus demi bungkus. Aku mendengarnya
memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang
begitu baik. Hasil yang begitu baik."

Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela
nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa
membiayai keduanya sekaligus?"

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah
dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah
lagi, saya telah cukup membaca banyak buku."

Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada
wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu
keparat lemahnya? Bahkan jika berarti ayah mesti
mengemis di jalanan, ayah akan menyekolahkan kamu
berdua sampai selesai!" Kemudian ia mengetuk setiap
rumah di dusun itu untuk meminjam uang.

Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke
muka adikku yang membengkak. Aku berkata, "Seorang
anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya. Kalau
tidak, ia tidak akan pernah meninggalkan jurang
kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan
untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang,
adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai
pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering.
Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan
secarik kertas di atas bantalku, "Kak, masuk ke
universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari
kerja dan mengirimmu uang."

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku,
dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku
hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan
uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada
punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai
ke tahun ketiga di universitas.

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika
teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang
penduduk dusun menunggumu di luar sana!" Mengapa ada
seorang penduduk dusun mencariku?

Aku berjalan keluar dan melihat adikku dari jauh,
seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir.
Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada
teman sekamarku kalau kamu adalah adikku?"

Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana
penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka
tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan
menertawakanmu? "

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku
menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan
tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli
omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apapun juga!
Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu. "

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut
berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan
terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota
memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki
satu."

Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku
menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan
menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku pulang ke rumah setelah menghadiri
undangan pernikahan seorang teman, kaca jendela yang
pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di
mana-mana. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu
banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!"

Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu
yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini.
Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka
ketika memasang kaca jendela baru itu."

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat
mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku.
Aku mengoleskan sedikit salep pada lukanya dan
membalut lukanya. "Apakah itu sakit?" aku
menanyakannya.

"Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di
lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku
setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja
dan..." Di tengah kalimat itu ia berhenti.

Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata
mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23.
Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Seringkali
suamiku dan aku mengundang orangtuaku untuk datang dan
tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau.
Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka
tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak
setuju juga, dia mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu
saja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."

Saat Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami
menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai
manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku
menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai
bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, ketika adikku sedang di atas sebuah tangga
untuk memperbaiki sebuah kabel, ia mendapat sengatan
listrik, lalu masuk rumah sakit.

Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih
pada kakinya, aku menggerutu, "Mengapa kamu menolak
menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus
melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat
kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu
tidak mau mendengar kami sebelumnya?"

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela
keputusannya. "Pikirkan kakak ipar, ia baru saja jadi
direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika
saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa
yang akan dikirimkan?"

Mata suamiku dipenuhi air mata. Kemudian keluar
kata-kataku yang sepatah-sepatah, "Tapi kamu kurang
pendidikan juga karena aku!"

Lalu ia berkata, "Mengapa membicarakan masa lalu?"
Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26
dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang
gadis petani dari dusun itu. Dalam acara
pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya
kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan
kasihi?"

Tanpa berpikir, ia menjawab, "Kakak saya."

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah
kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya
pergi sekolah SD, sekolah kami ada di dusun yang
berbeda. Setiap hari kakak dan saya berjalan selama
dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah.
Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku.
Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Sedangkan
ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu.
Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran
karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat
memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah,
selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan
baik kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu
memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu
susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang
yang paling aku berterima kasih adalah adikku."

Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di
depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran
turun dari wajahku seperti sungai.

Diterjemahkan dari "I Cried for My Brother Six Times"

Tuesday, July 12, 2011

Kemana Arah Politik Malaysia?

kemana kah malaysia akan bergerak?
oleh a. eby hara

hampir 50 ribu orang turun ke jalan sabtu 9 juli lalu di KL. demonstrasi yang kabarnya hanya akan diikuti oleh ratusan orang lalu menggelinding kayak bola salju diikuti oleh ramai orang di jalan2 seputar pusat utama KL di Pudu Raya, Pasar Seni, Chinatown, KL Sentral, Mesjid Jamek dan Stadion Merdeka.

diceritakan pula, tidak seperti demo sebelumnya saat demonstran menutup mukanya karena takut, kali ini tak ada yang menutup muka. mereka dengan berani dan lantang menuntut pemilu bersih. lebih 1500 orang telah ditangkap karena dianggap melanggar aturan demonstrasi. nasib mereka akan ditentukan dalam beberapa hari ini. namun tentu pemerintah tidak dapat sembarangan menghukum mereka karena diantara yang tertangkap adalah pemimpin oposisi utama dari PAS, Partai Islam yang kuat.

dalam pengamatan sekilas, mestinya tak perlu demonstrasi ini. tuntutan para demonstran ini bukan lah hal besar seperti di Indonesia misalnya untuk mendorong pemerintah memberantas korupsi, menurunkan harga BBM yang dinaikkan, atau demo terhadap pemerintah yang ingkar janji. demonstrasi di indonesia adalah untuk menuntut perbaikan negeri yang carut marut.

dalam hal-hal di atas, justru pemerintahan di bawah PM Najib jauh meninggalkan indonesia. ekonomi tetap tumbuh dengan baik. pemerintah melakukan berbagai program untuk rakyat miskin.... Najib agaknya khawatir akan performance pemerintahannya yang lemah setelah ditinggal oleh PM terdahulu Abdullah Badawi. karena itu dia dengan menteri2 setidaknya dalam laporan media mainstream sangat giat tak kenal lelah melakukan perbaikan untuk masyarakat.

masalah yang didemo adalah juga simple yaitu penyelenggaraan pemilu yang kurang bersih. ini pun sebetulnya tidak buruk-buruk amat. walaupun suruhanjaya pilihan raya (semacam KPU) berada di bawah pemerintah, pelanggarannya tak lah seberat yang pernah terjadi dengan KPU di Indonesia. masalah yang dikeluhkan adalah masalah daftar nama pemilih yang jelas agar tidak ada pemilih hantu (ganda). mereka juga menuntut tinta yang tidak mudah hilang, kampanye minimal 21 hari, akses yang bebas dan fair ke media, lembaga masyarakat yang diperkuat dan korupsi dan politik kotor mesti dihentikan.

mungkin tanpa demonstrasi, persoalan ini bisa diatasi walau agak lambat. dengan tekanan terus menerus melalui parlemen yang lebih dinamis karena banyaknya anggota oposisi, penggunaan media oposisi dan alternatif seperti internet, pengiriman petisi dan lain-lain cara selain demonstrasi, pemerintah mungkin akan melakukan perubahan.

kalau demikian halnya pertanyaannya tentu saja adalah mengapa harus demonstrasi? ini lah agaknya yang menarik untuk diamati. demonstrasi ini menunjukkan hal yang lebih dalam yang terjadi dalam perpolitikan di Malaysia. ini bukan sekedar pemilu bersih tetapi menyangkut mood masyarakat Malaysia terutama oposisi yang jenuh dengan sistem politik dan wacana politik yang dikembangkan oleh pemerintah.

pertama mereka ingin merobohkan mitos bahwa demonstrasi itu haram dan berbahaya untuk masyarakat berbilang kaum seperti Malaysia. sudah menjadi rahasia umum bahwa pemerintah malaysia sejak lama alergi terhadap demonstrasi. mereka sering mengatakan bahwa demonstrasi sama dengan anarki. demonstrasi merusak kestabilan dan mengacaukan kegiatan ekonomi.

dalam responnya terhadap demonstrasi, memang hal ini kembali ditegaskan oleh PM Najib. ia bukannya menanggapi isu yang dituntut oleh para demonstran, tetapi mengajak rakyatnya untuk bersama dia melawan kegiatan oposisi yang dianggap akan mengacau keamanan negara dan kestabilan. ia mengganggap cara-cara demonstrasi bukan prilaku demokrasi yang beradab dan layak diikuti.

upaya oposisi ini lumayan berhasil. selain berhasil menghimpun massa yang cukup besar, mereka juga berhasil menunjukkan sesungguhnya demonstrasi mereka berjalan damai, tidak merusak dan tidak anarkis. lebih dari itu mereka seolah menunggang keberhasilan gerakan reformasi dan demonstrasi di negara-negara Timur Tengah dalam menunjukkan bahwa rejim penguasa sekarang adalah masih authoritarian kalau tidak demokratis.

respon pemerintah melalui polisi yang keras seolah seperti menempatkan rejim PM Tun Razak sama dengan rejim-rejim Mubarak, Asaad dan Khadafi. penangkapan lebih 1500 orang itu mendapat peliputan negatif media Barat dan diprotes staf PBB dan Amnesty Internasional. ini tentu saja suatu kampanye buruk buat pemerintahan semi-demokrasi Malaysia.

kedua, demonstrasi telah menghidupkan kembali gairah oposisi. kelompok oposisi yang dimotori oleh PKR, DAP dan PAS seperti kehilangan momentum setelah sukses dalam pilihan raya 2008 lalu. mereka hampir-hampir kehilangan isu karena konsistensi dan responsifness dari pemerintahan Najib dalam memperbaiki citra BN partai yang berkuasa. PM Najib menanggapi kritik terhadap lemahnya pendahulu dia PM Badawi dengan melakukan banyak perbaikan terutama dengan membuat program yang pro-rakyat kecil.

kalau mood dan kecenderungan pemilih pada oposisi tidak dijaga, pelan-pelan keadaan akan normal dalam pengertian orang akan kembali ke BN karena oposisi tidak ada lagi greget. demonstrasi ini dengan demikian sebuah kejutan untuk menunjukkan bahwa oposisi masih punya greget, punya agenda untuk diperjuangkan.

ketiga, dan yang paling penting adalah bahwa demonstrasi ini mewakili satu generasi baru di Malaysia. dikatakan bahwa mereka yang protes kebanyakan adalah orang muda, sebagian adalah pemilih pertama. mereka ini adalah generasi yang jenuh dengan wacana politik yang dominan di masyarakat. sebagian mereka mungkin jenuh dengan alasan kontrak sosial masyarakat di Malaysia tentang hubungan etnik yang selalu diulang-ulang.

sebagian mereka jenuh dengan wacana kestabilan dan keteraturan untuk kemajuan ekonomi yang sering digunakan untuk menghalalkan represi terhadap oposisi. mereka jenuh dicecoki dengan argumen-argumen yang sama tentang hubungan antar kaum dan kestabilan pemerintahan. media alternatif seperti internet dan koran oposisi menyadarkan mereka bahwa seringkali wacana itu digunakan untuk mengamankan pemerintah dari protes atas berlakunya oligarki dalam pemerintahan. wacana kestabilan dilihat untuk mengamankan kepentingan elit yang makin kaya dan makin kaya.

singkatnya mereka secara kritis melihat untuk kepentingan siapa kestabilan dan juga pertumbuhan ekonomi itu. Maklum lah BN sudah terlalu lama berkuasa dan di sana sudah terbentuk jaringan kekuasaan yang susah ditembus. kecuali mereka yang ada dalam lingkaran kekuasaan, kerabat politisi dan keluarga bekas-bekas PM, orang biasa semakin tidak punya akses untuk masuk ke kelas elit itu.

perlawanan terhadap keadaan demikian seolah menjadi model perjuangan, semangat baru, atau bahkan kebanggan baru bagi mereka. Mungkin sebuah heroisme baru bagi orang muda. ini nampak dari besarnya demo ini dan kini mereka tidak lagi menutup muka karena takut ditangkap. dalam sebuah tanggapan di blog, seorang pemuda menulis untuk pertamakalinya ia bangga sebagai orang Malaysia.

pada hari-hari mendatang kita akan melihat kemanakah angin akan bertiup dan suara akan berayun bila pilihan raya diadakan. demonstrasi ini bisa menjadi sebuah turning point bagi perubahan di Malaysia.

Monday, June 09, 2008

Human Security
Tertarik dengan Human Security. Ini ada link menarik http://humansecurityconf.polsci.chula.ac.th/final.html Ada paper saya juga. Tapi tentang wanita. Saya gak ngerti apa relevan tidak dengan human security, karena itu perlu dikritisi. Ingat ini bukan tulisan seorang feminis. Judulnya ', Promoting Women's Security as Human Security: Indonesian women attempt to find their place in the newly Indonesian democracy

Semester Baru

Semester baru Ganjil mulai lagi sejak Senin 21 Agustus lalu. Walaupun tidak setiap minggu (karena mengajar dalam team), tetapi total kelas y...