Saturday, August 26, 2023

Semester Baru

Semester baru Ganjil mulai lagi sejak Senin 21 Agustus lalu. Walaupun tidak setiap minggu (karena mengajar dalam team), tetapi total kelas yang akan saya masuki adalah 16 kelas. Ini lah jadwal saya. Saya letak di sini supaya saya juga ingat.

1. Hari : Senin Jam : 18:00 - 20:40 WIBSPI1306 - Teori Hubungan Internasional Kelas : A3 Ruang Kuliah 101 gedung GEDUNG A FISIP

2. Hari : Selasa Jam : 06:00 - 08:40 WIBSPI1306 - Teori Hubungan Internasional. Kelas : A1Ruang : Ruang Kuliah 101 gedung GEDUNG A FISIP

3. Hari : Selasa Jam : 12:30 - 15:10 WIBMIA2101 - Filsafat Ilmu (S2).Kelas : Ruang : RUANG KULIAH PASCA 111 gedung GEDUNG D FISIP

4. Hari : Selasa Jam : 16:10 - 17:50 WIBSPI1202 - Teknik Penulisan Ilmiah Kelas : A1 Ruang : Ruang Kuliah 102 gedung GEDUNG A FISIP

5. Hari : Rabu Jam : 08:50 - 11:30 WIBSPI1419 - Gastrodiplomasi Kelas : A1 Ruang : Ruang Kuliah 101 gedung GEDUNG A FISIP

6. Hari : Rabu Jam : 13:20 - 16:00 WIBSPI1306 - Teori Hubungan Internasional Kelas : A2 Ruang : Ruang Kuliah 101 gedung GEDUNG A FISIP

7. Hari : Kamis Jam : 06:00 - 08:40 WIBSPI1419 - Gastrodiplomasi Kelas : A3 Ruang : Ruang Kuliah 103 gedung GEDUNG A FISIP

8. Hari : Kamis Jam : 13:20 - 16:00 WIBSPI1565 - Metodologi Hubungan Internasional .Kelas : A1
Ruang : Ruang Kuliah 102 gedung GEDUNG A FISIP

9. Hari : Kamis Jam : 18:00 - 20:40 WIBSPI1419 - Gastrodiplomasi Kelas : A4
Ruang : RUANG KULIAH 02 gedung GEDUNG IsDB FISIP

10. Hari : Kamis Jam : 18:00 - 20:40 WIBSPI1566 - Teori Politik Luar Negeri Kelas : A3
Ruang : RUANG KULIAH 107 gedung GEDUNG B FISIP

11. Hari : Jum'at Jam : 06:00 - 08:40 WIBSPI1565 - Metodologi Hubungan Internasional. Kelas : A2
Ruang : Ruang Kuliah 101 gedung GEDUNG A FISIP

12. Hari : Jum'at Jam : 06:00 - 08:40 WIBSPI1566 - Teori Politik Luar Negeri Kelas : A1
Ruang : RUANG KULIAH 107 gedung GEDUNG B FISIP

13. Hari : Jum'at Jam : 08:50 - 11:30 WIBSPI1419 - Gastrodiplomasi Kelas : A2
Ruang : Ruang Kuliah 103 gedung GEDUNG A FISIP

14. Hari : Jum'at Jam : 13:20 - 16:00 WIBSPI1566 - Teori Politik Luar Negeri Kelas : A2
Ruang : RUANG KULIAH 107 gedung GEDUNG B FISIP

15. Hari : Jum'at Jam : 15:10 - 17:50 WIBPSDIA01 - Filsafat Ilmu Pengetahuan Kelas : PSDIA
Ruang : RUANG KULIAH PASCA 220 gedung GEDUNG D FISIP

16. Hari : Jum'at Jam : 18:00 - 20:40 WIBSPI1565 - Metodologi Hubungan Internasional. Kelas : A3
Ruang : Ruang Kuliah 103 gedung GEDUNG A FISIP

Jurusan kami pada tahun 2023 ini menerima sekitar 140 mahasiswa baru.

Monday, March 09, 2020

Menanti Akhir Kemelut Politik Malaysia

 Oleh A. EBY HARA
KEMELUT politik di Malaysia, agaknya, segera mereda. Ternyata ia tidak sedramatis yang dikhawatirkan banyak orang. Perdana Menteri (PM) Interim Mahathir Mohamad makin mendapat dukungan yang luas untuk tetap menjadi PM. Dalam beberapa hari ini, pemerintahan baru segera terbentuk, walaupun bentuknya belum jelas apakah pemerintahan persatuan melibatkan semua partai.
https://www.jawapos.com/opini/27/02/2020/menanti-akhir-kemelut-politik-malaysia/

Thursday, February 06, 2020

Provokasi Tiongkok, Tes Kebersamaan ASEAN


Oleh A. Eby Hara - 
PELANGGARAN wilayah laut zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia di Laut Natuna Utara oleh Tiongkok memicu kekhawatiran munculnya eskalasi konflik yang lebih besar antara kedua negara. Laporan berbagai media menggambarkan bahwa konflik itu menyangkut pertarungan kedaulatan dan integritas Indonesia yang mesti dihadapi dengan serius.

Thursday, January 30, 2020

Telah Terbit Buku Baru... Diplomasi Publik: Memenangkan Hati dan Pikiran

BAB 1 PENDAHULUAN

Buku ini berangkat dari pemikiran tentang masih kurangnya buku yang membahas Diplomasi Publik (DP) di Indonesia. Beberapa tulisan tentang DP memang bisa ditemui di jurnal-jurnal dan laporan media Indonesia, namun belum ada yang ditulis secara komprehensif dalam sebuah buku. Sejauh ini kami melihat hanya ada tiga buku tentang diplomasi publik. Dua buku berusaha meninjau Diplomasi Publik, satu ditulis oleh akademisi (Rachmawati, 2018) dan satunya oleh praktisi (Basnur, 2018). Satu lagi buku membahas Diplomasi Publik Jepang (Effendi, 2011). Hal ini cukup memprihatinkan karena dalam perkembangan dunia dan dalam studi Hubungan Internasional (HI). DP merupakan salah satu andalan diplomasi yang sudah lama di dunia internasional. Apalagi dalam dunia yang dikuasai oleh teknologi digital, DP menjadi cara yang mudah untuk memperkenalkan dan meningkatkan citra bangsa dimata dunia internasional.
Salah satu alasan kurangnya perhatian pada DP adalah masih dominannya perspektif realis dalam studi Hubungan Internasional di Indonesia. Perhatian terhadap DP itu masih rendah karena umumnya para akademisi dan mahasiswa lebih terbiasa dan senang mengalisis masalah-masalah konflik, perang dan damai antar negara yang dianggap lebih urgent dan mengancam. Dunia yang masih sering bergolak di Timur Tengah, Asia Timur dan juga sebagian Eropa Timur menjadi ladang subur bagi kajian realisme dimana penggunaan senjata atau hard power masih dominan.
Sementara itu, kajian DP yang umumnya mengandalkan analisis tentang soft power dan bagaimana mempromosikannya sebagai bagian dari citra diri dan identitas ke dunia internasional, dalam dunia demikian, masih dipandang kurang relevan bahkan tidak berguna. Dengan kata lain kajian DP masih menempati posisi marjinal dalam studi HI di Indonesia.
Berangkat dari keresahan demikian buku ini mencoba memperkenalkan dan menguraikan apakah DP itu, bagaimana asal usulnya, bagaimana fungsinya dan mengapa studi terhadap DP perlu dilakukan. Sebagian dunia memang masih diliputi perang namun sebagian lain mulai meninggalkan perang dan bahkan semua negara berusaha untuk menampilkan citra dirinya yang baik dan pendukung perdamaian di dunia internasional. Bahkan negara-negara yang terlibat perang sekalipun, tetap menggunakan DP ke dunia. Mereka tanpa dirasakan oleh masyarakat internasional seolah-olah menampilkan citra dirinya yang baik dibalik topeng kerakusan untuk menguasai dunia.
Dalam bab pendahuluan ini, kami ingin membahas lebih lanjut mengapa DP menjadi semakin penting di dunia internasional. Apa yang dimaksudkan dengan DP, bagaimana asal usulnya dan apa strategi yang dipakai dalam DP. Bab ini dibagi dalam dua bagian. Pertama, kami akan membahas apa yang dimaksud DP dan asal usulnya. Kedua berisi uraian singkat bab-bab dalam buku ini. Sebagian materi dalam bab pendahuluan ini diambil dari tulisan Jan Melissen, ‘The New Public Diplomacy: Between Theory and Practice’ (Melissen, 2005).

Asal Usul dan Makna Diplomasi Publik

Kegiatan DP sebetulnya sudah lama dilakukan oleh negara-negara karena tidak ada negara di dunia yang ingin negaranya atau pemerintahannya terlihat buruk di mata dunia. Sejak zaman dulu, negara-negara meyakinkan dunia akan kemajuan dan keunggulan sistem negaranya dibanding negara lain. Bahkan dalam Perang Dingin, walaupun terjadi apa yang disebut dengan arm race, blok Uni Soviet dan Amerika juga menampilkan citra diri tentang jalan pembangunan dan sistem politik yang tepat dan mestinya diikuti oleh negara-negara lain.
Dalam konteks demikian tidak salah kiranya kalau DP dikatakan, ketika saat ini menjadi sorotan kembali, sebagai new wine in the old bottle. Dulu mungkin cara-cara DP dilakukan tidak secanggih sekarang. Kadangkala negara-negara itu melakukan propaganda yang dianggap buruk dan intimidatif. Sementara sekarang caranya semakin canggih dan halus. Karena itulah orang seringkali menyebut apa yang dilakukan oleh rezim Uni Soviet sebagai propaganda karena mereka ingin mengekspor ajaran komunis ke seluruh dunia. Istilah propaganda dalam konteks demikian seringkali mempunyai konotasi negatif. Namun dikemudian hari kita menyadari negara mana yang sesungguhnya tidak melakukan propaganda ke dunia internasional. Semua negara ingin menunjukkan dirinya sebagai negara pencinta damai, pendukung demokrasi dan negeri yang layak untuk dikunjungi. Mereka berusaha ‘memenangkan hati dan pikiran’ orang lain agar menyukai bahkan mengikuti pelbagai model negara mereka.
Upaya awal untuk menciptakan image dan identitas negara yang dicatat dalam pembahasan DP adalah di Eropa abad ke 17. Perancis terutama dibawah Louis XIV memanfaatkan penemuan media cetak untuk mengirim pelbagai berita tentang keistimewaan negaranya melalui saluran diplomatik. Ini kemudian terus berlanjut. Pada masa sebelum Perang Dunia Pertama, Presiden Amerika Serikat (AS) Woodrow Wilson dan pemimpin Uni Soviet Josef Stalin sudah bersaing untuk memperjuang nilai dan values yang seharusnya bagi dunia internasional. Negara lain yang dicatat ingin mengubah citra dirinya bahkan secara dramatis adalah Turki di bawah Mustafa Kemal Atatürk. Upayanya cukup berhasil sehingga membuat negara ini setidaknya menjadi agenda dalam pembicaraan di Uni Eropa (Melissen, 2005). Walaupun demikian perhatian secara sistematis kepada DP terutama dilakukan setelah peristiwa 9/11 di Amerika. Amerika perlu menampilkan citra diri yang lebih baik ke dunia Islam dan menggalang kekuatan melawan terorisme.
Perbedaan antara diplomasi tradisional dengan DP adalah cukup jelas. Diplomasi tradisional berpusat pada hubungan antara wakil-wakil resmi negara dan aktor internasional lainnya, sementara dalam DP aktornya bisa negara dan bisa juga masyarakat sipil. Dalam pengertian tradisional, diplomasi menekankan pentingnya negosiasi untuk menyelesaikan masalah secara damai melalui para wakil resmi negara. Itulah yang banyak dilakukan baik secara bilateral maupun dalam forum-forum multilateral yaitu untuk mengelola hubungan internasional dengan perundingan dalam pelbagai konfrensi atau pertemuan. Target dari DP adalah masyarakat umum di negara lain atau lebih khusus lagi kelompok-kelompok tertentu dan individu-individu tertentu di negara lain. Kita ingin menampilkan citra diri kita ke luar, yang dalam hal tertentu juga mengharuskan kita memperbaiki citra diri itu ke dalam.
Dalam pengertian tradisional orang sering melihat keberhasilan diplomasi terjadi bila negara berhasil memenangkan posisi di forum-forum internasional, misalnya dulu untuk memenangkan posisi Indonesia atas Timor-Timur di PBB. Sebaliknya kegagalan terjadi bila diplomasi gagal memperjuangkan posisi itu. Bila para diplomat gagal memperjuangkan kedaulatan Indonesia atas Timor Timur di PBB, maka negara akan dianggap kalah dan kehilangan muka. Pandangan demikian pada satu sisi memang penting, tapi menyalahkan para diplomat atas kegagalan itu tidak lagi fair. Dunia menjadi sangat kompleks dewasa ini. Para aktor tidak memiliki kontrol terhadap banyak hal di lingkungan internasionalnya seperti yang mereka inginkan. Yang dihadapi oleh para diplomat bukan hanya diplomat resmi di negara lain tetapi pelbagai jenis masyarakat baik yang terlibat dalam kegiatan diplomasi resmi atau pun tidak. Mereka harus meyakinkan audience ini dan tugas itu pun tidak bisa hanya diberikan ke para diplomat saja. Harus ada kerjasama atau kolaborasi dengan pelbagai pihak yang relevan. Dari sini lah kemudian diperlukan apa yang kita kenal dengan Diplomasi Publik.
Beberapa definisi yang diberikan kepada DP menekankan tentang upaya meyakinkan orang-orang di negara lain tentang nilai dan kepentingan suatu negara (Sharp, 2005: 106-123). Ini meliputi upaya pemerintah, seperti dikatakan oleh Hans Tuch, untuk mengkomukasikan kepada publik asing tentang cita-cita dan ide-ide, kelembagaan dan budaya serta tujuan dan kebijakan nasional dari negara satu negara ke negara lainnya (Melissen, 2005: 12). Beberapa ciri dari DP yang penting adalah pertama ia beroperasi dalam lingkungan jaringan bukan dalam sistem state centric yang hirarkis. Kedua, target dari DP adalah publik di luar negeri, bukan public affairs seperti di dalam negeri sehingga memerlukan cara yang berbeda. Ketiga DP bukan lah komunikasi satu arah memasarkan informasi ke orang asing dan ke media asing, tetapi meliputi proses melibatkan (engaging) audien asing. Contoh yang baik adalah ‘niche diplomacy’ yang dilakukan Norwegia dan Kanada.
Tujuan DP adalah jangka panjang, namun seringkali orang terjebak pada tujuan jangka pendek agar pemimpin politik di negara target membuat keputusan yang mendukung tujuan politik luar negeri kita. Dalam DP mungkin ini dilihat terlalu ambisius. Karena itu lah kadang-kadang DP tidak perlu dikaitkan secara erat dengan target-target politik luar negeri jangka pendek, tetapi untuk jangka menengah dan panjang. Tujuan DP adalah untuk membangun kepercayaan dan kredibilitas, dan mempengaruhi lingkungan perdebatan politik yang favorable untuk negara kita.
Timbul pertanyaan juga tentang apakah DP sama dengan propaganda. Hal ini susah dibedakan karena sebagian tujuan propaganda sama dengan tujuan DP yaitu untuk mempengaruhi opini audien melalui transmisi ide dan nilai-nilai (Melissen, 2005: 17). Namun propaganda secara historis mempunyai kesan negatif, manipulatif, menipu dan memaksa dalam mempengaruhi opini orang. Seperti akan dijelaskan di Bab II kesan negatif dari propaganda muncul karena ia dalam sejarahnya digunakan oleh Nazi dan Komunis. DP juga sedikit berbeda dengan nation branding dalam hal cakupan kegiatannya. Nation branding mempunyai tujuan khusus dan mempunyai target yang jelas. Sementara DP lebih luas dan belum tentu mepunyai target yang lebih spesifik. Walau demikian kegiatan re-branding diharapkan dapat membangun identitas suatu negara paralel dengan kegiatan DP.
DP merupakan fenomena baru namun pentingnya semakin disadari oleh banyak negara terutama dengan bermunculannya budaya-budaya pop yang menguasai dunia dan pelbagai kegiatan budaya, sosial dan politik masyarakat di negara lain yang berimplikasi pada negara kita. Para diplomat dengan perkembangan demikian harus menyesuaikan diri dan tidak lagi hanya bisa memainkan peran diplomasi tradisional. Kegiatan masyarakat di negara lain ini tidak bisa diatasi hanya dengan diplomasi tradisional. Kegiatan mereka ini bisa jadi sangat merugikan misalnya kegiatan gerakan separatis, gerakan HAM dan gerakan pro lingkungan hidup yang didukung di suatu negara jelas merugikan negara kita. Kemunculan soft power dalam HI merupakan tes bagi kemampuan para diplomat ini (Melissen, 2005: 25).

Struktur Buku

Buku ini terdiri atas enam Bab yaitu Bab 1 Pendahuluan; Bab 2 Diplomasi; Bab 3 Diplomasi Publik; Bab 4 Diplomasi Budaya; Bab 5 Paradiplomasi; Bab 6 Diplomasi Ilmu Pengetahun. Pembagian Bab ini mungkin tidak mewakili keseluruhan kasus Diplomasi Publik. Kami sengaja memilih kasus Diplomasi yang diluar mainstream Kajian Diplomasi Publik pada umumnya karena menurut pandangan kami kasus-kasus ini sangat penting, namun hilang dari perhatian kalangan akademik dan mahasiswa. Diplomasi Budaya, Paradiplomasi dan Diplomasi Ilmu Pengetahuan yang kami bahas dalam buku ini dianggap tidak mainstream tetapi kepentingannya sejak lama sangat signifikan. Berikut ini adalah ringkasan bab per bab dalam buku ini.
Bab 1 Pendahuluan berisi beberapa definisi dasar tentang Diplomasi Publik, asal usul dan perkembangannya dan uraian mengapa DP ini penting dalam studi HI Kontemporer.
Pada Bab 2 Diplomasi, kami membicarakan dasar-dasar dan pekembangan Diplomasi dalam Studi Hubungan Internasional yang sangat penting bagi para penstudi HI. Kami sengaja menguraikan secara lebih rinci perspektif Diplomasi untuk memberikan gambaran kontinuitas dan perubahan dalam Diplomasi. Dalam Bab ini perkembangan itu tidak hanya menyangkut teori tetapi juga aktor-aktor yang terlibat dan perkembangan diplomasi yang asalnya hanya dilakukan oleh negara sehingga kini dilakukan oleh banyak aktor lain. Dengan kata lain ada perkembangan ke arah diplomasi multi jalur. Perkembangan ke arah diplomasi multi-jalur (multi-track diplomacy) ini menyebabkan banyaknya aktor termasuk publik untuk terlibat dalam diplomasi yang kemudian dikenal dengan istilah Diplomasi Publik.
Pada Bab 3, tentang Diplomasi Publik, kami berusaha menunjukkan keterbatasan Diplomasi tradisional yang menggunakan hard power dan perubahan orientasi negara-negara ke arah pentingnya soft power. Soft power ini dapat diperkuat kalau negara-negara menggunakan DP untuk mewujudkannya. Dalam Bab 2 ini kami juga membahas perkembangan diplomasi publik dan perspektif teoritik yang umum dipakai dalam pelaksanaan diplomasi publik tersebut. Kami juga membahas perbedaan mendasar antara Diplomasi dan Propaganda. Selain dari itu diuraikan juga perbedaan Diplomasi Publik antara model Amerika, Eropa dan Asia.
Pada bab 4 kami membahas Diplomasi Budaya. Pada umumnya diplomasi budaya menekankan pertukaran produk-produk budaya seperti kuliner, seni musik, fesyen dan tari-tarian. Dalam bab ini kami menjelaskan bahwa Diplomasi Budaya merupakan bagian dari Diplomasi Publik yang tidak sekedar pertukaran kesenian, tetapi juga menyangkut upaya untuk mengkomunikasikan pemikiran, penelitian, jurnalisme dan wacana antara satu negara dengan yang lainnya. Diplomasi Budaya karena itu berupaya membangun kedekatan hubungan budaya dan informasi berkenaan dengan realitas sosial, ekonomi dan politik antar dua atau lebih negara.
Dalam Bab 5 kami mendiskusikan Paradiplomasi, suatu istilah diplomasi yang masih belum begitu popular bagi mahasiswa. Paradiplomasi adalah diplomasi yang dilakukan oleh pemerintah daerah karena adanya program otonomi dan keperluan daerah yang spesifik. Paradiplomasi tidak menimbulkan masalah bila sejalan dengan diplomasi pusat, tetapi akan ada peninjauan bilamana ia melanggar otoritas pemerintah pusat. Kegiatan paradiplomasi misalnya menghasilkan sister city dan province city. Dalam level yang lebih tinggi, pemerintah-pemerintah daerah dari negara yang berbeda bisa bersatu untuk menggolkan kebijakan nasional misalnya tentang perubahan iklim yang tidak kunjung diselesaikan oleh pemerintah pusat.
Bab 6 membahas Diplomasi Ilmu Pengetahuan (DIP). Ini juga bagian dari Diplomasi Publik yang menempati posisi marjinal dalam diplomasi tradisional. Banyak orang sangat optimis bila DIP dilakukan, maka ia akan mengatasi pelbagai permasalahan manusia seperti kesehatan, kemiskinan, kekurangan air dan makanan. Hal ini dimungkinkan dalam dunia kosmpolitan dimana kepedulian orang tidak lagi pada negara tetapi pada kemanusiaan global. Dalam bab ini kami juga mengingatkan bahwa ada sisi negatif dari DIP ketika ia dijalankan oleh negara-negara untuk memperkuat teknologi persenjataan mereka yang makin hari makin canggih dan bisa memusnahkan seperti senjata nuklir. Selain itu DIP digunakan oleh negara-negara untuk tetap menguasai teknologi dengan misalnya memasukkan International Property Right (IPR) ke dalam kerangka perdagangan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Tindakan itu akan terus membuat terjadinya disparitas antara negara maju dan negara berkembang.
Keseluruhan enam bab tulisan ini diharapkan akan membantu mahasiswa dan para peminat studi HI untuk memahami lebih lanjut peranan Diplomasi Publik dalam kegiatan internasional suatu negara. Diplomasi Publik menjadi bagian yang sangat penting karena kemajuan teknologi komunikasi dimana masyarakat di negara lain mendapat informasi tentang negara kita dengan cepat. Mereka pun memberi reaksi bermacam-macam terhadap perkembangan di Indonesia dari yang radikal misalnya menolak satu kasus dengan melakukan demonstrasi sampai dengan yang mendukung. Keberhasilan menggunakan Diplomasi Publik akan meningkatkan soft power suatu negara dalam hubungan dengan negara lain. DIP misalnya akan memperkuat soft power suatu negara di bidang pendidikan dan budaya. Negara itu akan menjadi rujukan dalam hal pengetahuan, meningkatkan potensi kerjasama dan mengundang para pakar dan penstudi untuk belajar di negara tersebut.

Sunday, November 17, 2019

The Failure of Islamic Populism: The Case of Indonesia’s 2019 Election

Sumber foto: RMOL.id https://hukum.rmol.id/read/2017/04/03/286319/1/Skenario-Terburuk-Al-Khaththath-Cs-Duduki-Gedung-DPR,-Terobos-Pintu-Belakang?page=2  
Artikel bisa didonlod di https://www.atlantis-press.com/proceedings/aicosh-19/125916033 Authors
Abubakar Eby Hara, Agus Trihartono
This paper attempts to discuss the failure of Islamic populism in Indonesia. In the 2019 general election, populist jargons departing from Islamic teachings was used in the campaign to win the election. Islamic populist jargons are generally interpreted as an effort to voice the pure voice of the people, called the ummah, to fight a tyrannical regime which is sometimes also considered secular, corrupt and anti-Islamic. These jargons are mainly used by supporters of the opposition candidate Prabowo Subianto to defeat the incumbent President Joko Widodo. From the results of the General Election, the influence of Islamic populism, however, is very limited. In this paper, we argue that the failure of Islamic populism is due to three things, first, the support for the democratic process is still quite strong. Secondly, Islamic populism used by the Prabowo group is not part of mainstream Islam in Indonesia. Thirdly, in a long historical context, Islamic populism is always contestable in Indonesian politics so that its influence in politics is always debatable. To discuss this issue, this paper traces various campaign themes of the two Presidential candidates in various media and uses of statistical data from a national survey institution.

Saturday, November 16, 2019

Populism in Indonesia and its Threats to Democracy

Picture source: https://www.fairobserver.com/politics/democracy-crisis-elections-populism-donald-trump-latest-world-news-34942/  Paper can be downloaded at https://www.atlantis-press.com/proceedings/icsps-17/25891343 Author: Abubakar Eby Hara Abstract
This paper discusses the emergence of populist movements in Indonesia and its influence on Indonesian democracy. As in some democratic countries, populism also becomes one of Indonesia's political traits. Although not exactly the same as the general models of populism in the West, Indonesian populist figures such as Joko Widodo and Prabowo Subianto have enough political appeal. Both use populist style in 2014 presidential election. Another less known populist movement is Islamic populism that has long historical roots and sticking to the 2017 Jakarta Gubernatorial election. In contrast to the extreme right and left populists in Europe and Latin America, the Indonesian populist tradition is new, not yet having a clear program and divided. In this context, populism has not threatened democracy even it can channel people direct interests. Nevertheless, in the long run the potential threat of populism to democracy cannot be underestimated primarily because of the authoritarianism tendency in populist figures to challenge democracy principles. Similarly, massive populist campaigns can strengthen the formation of group identity that disrupts the social relations in society.

Friday, November 15, 2019

Interview with Revista Mundorama - The struggle for upholding human rights through the ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR): Some Barriers and Prospects

Ten years ago, ASEAN established the ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR), a Commission similar to the Inter-American Commission on Human Rights (IACHR) in America. If ASEAN is much appreciated as one of the most successful regional organizations after the European Union, it is not the case with the enforcement of human rights. AICHR still lags behind the IACHR in terms of, for example, protecting human rights. Both organizations have acknowledged universal human rights principles and norms, but the IACHR has American Court to address various human rights violations, while the AICHR does not have the same institution because its member countries are still worried about other members’ interference in their domestic matters. Discussing the issue of human rights violations in other member countries is still often considered a taboo, so human rights issues are not addressed properly. 
Cite this article as: Editoria Mundorama, "The struggle for upholding human rights through the ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR): Some Barriers and Prospects, by Abubakar Eby Hara," in Revista Mundorama, 12/08/2019, https://mundorama.net/?p=25812.

Wednesday, November 06, 2019

Democracy and Continuing Marginalization of Women in Indonesian Politics

Authors: Abubakar Eby Hara, Agus Trihartono and Nino Viartasiwi.
Although much progress and efforts have been made to increase women’s participation in politics, the main idea of women’s involvement in politics has not yet penetrated into the mainstream of Indonesian politics. The main idea is not only a representation of the number of female population but also the representation that will bring new norms for Indonesian politics that has been so far dominated by the assumption of masculinity based on power politics and struggle to control resources by one party for the loss of others. This paper seeks to see how this marginalization of women continues to occur. One of the reasons for this cannot be separated from the waning of the reform spirit that inspired the reformation. Slowly but surely Indonesian politics is re-defined in term of power struggles by all means including by corruption, collusion, and nepotism that was once the object of criticism of reform groups. In this context, it is often the case that if women want to succeed in politics, they must follow such political norms and abandons the idealism of their struggle. In fact, such women politicians not only abandon the ideal of feminist struggle but reinforce the assumption that politics is the world of men. For full paper, please see https://www.e3s-conferences.org/articles/e3sconf/abs/2018/48/e3sconf_icenis18_11005/e3sconf_icenis18_11005.html

Tuesday, November 05, 2019

The struggle to uphold a regional human rights regime: the winding role of ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR)

Please visit my latest article published in Revista Brasileira de Política Internacional ISSN 1983-3121 Vol. 62, No. 1, 2019. DOI: http://dx.doi.org/10.1590/0034-7329201900111 The struggle to uphold a regional human rights regime: the winding role of ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR) Abstract
This paper examines the ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights’ (AICHR) role in upholding human rights by using the perspective of the human rights regime theory. In this perspective, AICHR is still behind other regional human rights bodies, such as the Inter-American Commission on Human Rights (IACHR). The AICHR has passed the declaratory regime, but has not been in the stages of implementation or enforcement regime. Efforts from human rights proponents are expected to elevate the role of the AICHR. Keywords: ASEAN; AICHR; IACHR; civil society organization; regime theory.

Tuesday, October 22, 2019

ASEAN Paradigm Shift from a State to People-Oriented Organization: A Neo-Communitarian Perspective

By MOHD AZIZUDDIN MOHD SANI and ABUBAKAR EBY HARA 
This paper attempts to examine the paradigm shift in ASEAN from a state-based to a people-based organization. We argue that by adopting a people-based organization, ASEAN now enters an era of Neo-Communitarianism replacing the Old Communitarianism of the old generation of ASEAN. By using communitarian perspectives, we look at the continuities and changes in ASEAN with regard to how it deals with issues involving their members. Three important issues namely the debates on intervention principle; the adoption of the three pillars of the ASEAN Community; and the inclusion of human rights are seen as the signposts where ASEAN departs from their Old to a Neo-Communitarianism. Although there have been a lot of challenges to the realization of the people-based organization, we see that the dynamics of debates and the active participation of the community in the debates show good prospects for the new paradigm to realize. In this paper, we use debate on the formation of ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (ICHR), to show the involvements of people in setting the agendas for the future ASEAN. 
In Japanese Journal of Political Science, Get access Volume 14, Issue 3September 2013 , pp. 379-394. It can be seen at https://www.researchgate.net/publication/259435186_ASEAN_Paradigm_Shift_from_a_State_to_People-Oriented_Organization_A_Neo-Communitarian_Perspective

Sunday, September 01, 2019

The Creation of Corporate Knowledge and Innovation among Indonesia's Batik Producers: A Case Study of Four Main Areas of Batik Production in Jawa

Written by Puji Wahono and Abubakar Eby Hara
Creation of corporate knowledge is generally recognized as crucial for innovation. Through a combination of tacit and explicit knowledge, companies can develop a concept or model of operation that is not easily imitated, and which can serve as the main source of their competitive advantage. Unfortunately, not much research has been done on how this ‘corporate knowledge’ is created, so both theories and information on knowledge creation is limited. This study attempts to examine select cases of creative creation of such knowledge in the traditionally family run batik industry in Java, Indonesia. The results of this study reveal that such a process of knowledge exists in the batik industry and is one of the factors that allow it to thrive. The primary method used in this study is the multivariate technique, which was used in tandem with SEM statistics and Lisrel software, to survey 220 batik businesses in Yogyakarta, Solo, Cirebon and Pekalongan. It was found that the most important stage in the process of knowledge creation is the conversion of tacit knowledge into explicit knowledge. The company's environmental conditions are also very important for the creation of knowledge processes
International Journal of Business and Society, Vol. 20 No.1, 2019, 299-310
http://www.ijbs.unimas.my/images/repository/pdf/Vol20-no1-paper19.pdf
Sumber foto: Antara Foto https://www.antarafoto.com/mudik/v1341317101/produksi-batik

Wednesday, July 17, 2019

I Cried for My Brother Six Times

Aku Menangis untuk Adikku
Penulis : Ratu Karitasurya

KotaSantri.com : Aku dilahirkan di sebuah dusun
pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari,
orangtuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung
mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang
adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang
mana semua gadis di sekelilingku kelihatan membawanya,
aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah
segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku
berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu
di tangannya.

"Siapa yang mencuri uang itu?" beliau bertanya. Aku
terpaku, terlalu takut untuk berbicara.

Ayah tidak mendengar siapapun mengaku, jadi beliau
mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua
layak dipukul!"

Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi.
Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata,
"Ayah, aku yang melakukannya! "

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku
bertubi-tubi. Ayah begitu marah, sehingga ia terus
menerus mencambukinya sampai beliau kehabisan nafas.

Sesudahnya, beliau duduk di atas ranjang batu bata
kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari
rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu
lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai
mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan
kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak
menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam
itu, aku tiba-tiba mulai menangis meraung-raung.
Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan
berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya
sudah terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki
cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun
telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan
seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa
tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu,
adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia
lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat
yang sama, aku diterima untuk masuk ke sebuah
universitas propinsi.

Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok
tembakaunya, bungkus demi bungkus. Aku mendengarnya
memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang
begitu baik. Hasil yang begitu baik."

Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela
nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa
membiayai keduanya sekaligus?"

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah
dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah
lagi, saya telah cukup membaca banyak buku."

Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada
wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu
keparat lemahnya? Bahkan jika berarti ayah mesti
mengemis di jalanan, ayah akan menyekolahkan kamu
berdua sampai selesai!" Kemudian ia mengetuk setiap
rumah di dusun itu untuk meminjam uang.

Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke
muka adikku yang membengkak. Aku berkata, "Seorang
anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya. Kalau
tidak, ia tidak akan pernah meninggalkan jurang
kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan
untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang,
adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai
pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering.
Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan
secarik kertas di atas bantalku, "Kak, masuk ke
universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari
kerja dan mengirimmu uang."

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku,
dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku
hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan
uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada
punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai
ke tahun ketiga di universitas.

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika
teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang
penduduk dusun menunggumu di luar sana!" Mengapa ada
seorang penduduk dusun mencariku?

Aku berjalan keluar dan melihat adikku dari jauh,
seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir.
Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada
teman sekamarku kalau kamu adalah adikku?"

Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana
penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka
tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan
menertawakanmu? "

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku
menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan
tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli
omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apapun juga!
Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu. "

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut
berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan
terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota
memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki
satu."

Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku
menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan
menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku pulang ke rumah setelah menghadiri
undangan pernikahan seorang teman, kaca jendela yang
pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di
mana-mana. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu
banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!"

Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu
yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini.
Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka
ketika memasang kaca jendela baru itu."

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat
mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku.
Aku mengoleskan sedikit salep pada lukanya dan
membalut lukanya. "Apakah itu sakit?" aku
menanyakannya.

"Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di
lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku
setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja
dan..." Di tengah kalimat itu ia berhenti.

Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata
mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23.
Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Seringkali
suamiku dan aku mengundang orangtuaku untuk datang dan
tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau.
Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka
tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak
setuju juga, dia mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu
saja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."

Saat Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami
menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai
manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku
menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai
bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, ketika adikku sedang di atas sebuah tangga
untuk memperbaiki sebuah kabel, ia mendapat sengatan
listrik, lalu masuk rumah sakit.

Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih
pada kakinya, aku menggerutu, "Mengapa kamu menolak
menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus
melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat
kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu
tidak mau mendengar kami sebelumnya?"

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela
keputusannya. "Pikirkan kakak ipar, ia baru saja jadi
direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika
saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa
yang akan dikirimkan?"

Mata suamiku dipenuhi air mata. Kemudian keluar
kata-kataku yang sepatah-sepatah, "Tapi kamu kurang
pendidikan juga karena aku!"

Lalu ia berkata, "Mengapa membicarakan masa lalu?"
Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26
dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang
gadis petani dari dusun itu. Dalam acara
pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya
kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan
kasihi?"

Tanpa berpikir, ia menjawab, "Kakak saya."

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah
kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya
pergi sekolah SD, sekolah kami ada di dusun yang
berbeda. Setiap hari kakak dan saya berjalan selama
dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah.
Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku.
Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Sedangkan
ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu.
Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran
karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat
memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah,
selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan
baik kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu
memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu
susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang
yang paling aku berterima kasih adalah adikku."

Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di
depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran
turun dari wajahku seperti sungai.

Diterjemahkan dari "I Cried for My Brother Six Times"

Tuesday, July 12, 2011

Kemana Arah Politik Malaysia?

kemana kah malaysia akan bergerak?
oleh a. eby hara

hampir 50 ribu orang turun ke jalan sabtu 9 juli lalu di KL. demonstrasi yang kabarnya hanya akan diikuti oleh ratusan orang lalu menggelinding kayak bola salju diikuti oleh ramai orang di jalan2 seputar pusat utama KL di Pudu Raya, Pasar Seni, Chinatown, KL Sentral, Mesjid Jamek dan Stadion Merdeka.

diceritakan pula, tidak seperti demo sebelumnya saat demonstran menutup mukanya karena takut, kali ini tak ada yang menutup muka. mereka dengan berani dan lantang menuntut pemilu bersih. lebih 1500 orang telah ditangkap karena dianggap melanggar aturan demonstrasi. nasib mereka akan ditentukan dalam beberapa hari ini. namun tentu pemerintah tidak dapat sembarangan menghukum mereka karena diantara yang tertangkap adalah pemimpin oposisi utama dari PAS, Partai Islam yang kuat.

dalam pengamatan sekilas, mestinya tak perlu demonstrasi ini. tuntutan para demonstran ini bukan lah hal besar seperti di Indonesia misalnya untuk mendorong pemerintah memberantas korupsi, menurunkan harga BBM yang dinaikkan, atau demo terhadap pemerintah yang ingkar janji. demonstrasi di indonesia adalah untuk menuntut perbaikan negeri yang carut marut.

dalam hal-hal di atas, justru pemerintahan di bawah PM Najib jauh meninggalkan indonesia. ekonomi tetap tumbuh dengan baik. pemerintah melakukan berbagai program untuk rakyat miskin.... Najib agaknya khawatir akan performance pemerintahannya yang lemah setelah ditinggal oleh PM terdahulu Abdullah Badawi. karena itu dia dengan menteri2 setidaknya dalam laporan media mainstream sangat giat tak kenal lelah melakukan perbaikan untuk masyarakat.

masalah yang didemo adalah juga simple yaitu penyelenggaraan pemilu yang kurang bersih. ini pun sebetulnya tidak buruk-buruk amat. walaupun suruhanjaya pilihan raya (semacam KPU) berada di bawah pemerintah, pelanggarannya tak lah seberat yang pernah terjadi dengan KPU di Indonesia. masalah yang dikeluhkan adalah masalah daftar nama pemilih yang jelas agar tidak ada pemilih hantu (ganda). mereka juga menuntut tinta yang tidak mudah hilang, kampanye minimal 21 hari, akses yang bebas dan fair ke media, lembaga masyarakat yang diperkuat dan korupsi dan politik kotor mesti dihentikan.

mungkin tanpa demonstrasi, persoalan ini bisa diatasi walau agak lambat. dengan tekanan terus menerus melalui parlemen yang lebih dinamis karena banyaknya anggota oposisi, penggunaan media oposisi dan alternatif seperti internet, pengiriman petisi dan lain-lain cara selain demonstrasi, pemerintah mungkin akan melakukan perubahan.

kalau demikian halnya pertanyaannya tentu saja adalah mengapa harus demonstrasi? ini lah agaknya yang menarik untuk diamati. demonstrasi ini menunjukkan hal yang lebih dalam yang terjadi dalam perpolitikan di Malaysia. ini bukan sekedar pemilu bersih tetapi menyangkut mood masyarakat Malaysia terutama oposisi yang jenuh dengan sistem politik dan wacana politik yang dikembangkan oleh pemerintah.

pertama mereka ingin merobohkan mitos bahwa demonstrasi itu haram dan berbahaya untuk masyarakat berbilang kaum seperti Malaysia. sudah menjadi rahasia umum bahwa pemerintah malaysia sejak lama alergi terhadap demonstrasi. mereka sering mengatakan bahwa demonstrasi sama dengan anarki. demonstrasi merusak kestabilan dan mengacaukan kegiatan ekonomi.

dalam responnya terhadap demonstrasi, memang hal ini kembali ditegaskan oleh PM Najib. ia bukannya menanggapi isu yang dituntut oleh para demonstran, tetapi mengajak rakyatnya untuk bersama dia melawan kegiatan oposisi yang dianggap akan mengacau keamanan negara dan kestabilan. ia mengganggap cara-cara demonstrasi bukan prilaku demokrasi yang beradab dan layak diikuti.

upaya oposisi ini lumayan berhasil. selain berhasil menghimpun massa yang cukup besar, mereka juga berhasil menunjukkan sesungguhnya demonstrasi mereka berjalan damai, tidak merusak dan tidak anarkis. lebih dari itu mereka seolah menunggang keberhasilan gerakan reformasi dan demonstrasi di negara-negara Timur Tengah dalam menunjukkan bahwa rejim penguasa sekarang adalah masih authoritarian kalau tidak demokratis.

respon pemerintah melalui polisi yang keras seolah seperti menempatkan rejim PM Tun Razak sama dengan rejim-rejim Mubarak, Asaad dan Khadafi. penangkapan lebih 1500 orang itu mendapat peliputan negatif media Barat dan diprotes staf PBB dan Amnesty Internasional. ini tentu saja suatu kampanye buruk buat pemerintahan semi-demokrasi Malaysia.

kedua, demonstrasi telah menghidupkan kembali gairah oposisi. kelompok oposisi yang dimotori oleh PKR, DAP dan PAS seperti kehilangan momentum setelah sukses dalam pilihan raya 2008 lalu. mereka hampir-hampir kehilangan isu karena konsistensi dan responsifness dari pemerintahan Najib dalam memperbaiki citra BN partai yang berkuasa. PM Najib menanggapi kritik terhadap lemahnya pendahulu dia PM Badawi dengan melakukan banyak perbaikan terutama dengan membuat program yang pro-rakyat kecil.

kalau mood dan kecenderungan pemilih pada oposisi tidak dijaga, pelan-pelan keadaan akan normal dalam pengertian orang akan kembali ke BN karena oposisi tidak ada lagi greget. demonstrasi ini dengan demikian sebuah kejutan untuk menunjukkan bahwa oposisi masih punya greget, punya agenda untuk diperjuangkan.

ketiga, dan yang paling penting adalah bahwa demonstrasi ini mewakili satu generasi baru di Malaysia. dikatakan bahwa mereka yang protes kebanyakan adalah orang muda, sebagian adalah pemilih pertama. mereka ini adalah generasi yang jenuh dengan wacana politik yang dominan di masyarakat. sebagian mereka mungkin jenuh dengan alasan kontrak sosial masyarakat di Malaysia tentang hubungan etnik yang selalu diulang-ulang.

sebagian mereka jenuh dengan wacana kestabilan dan keteraturan untuk kemajuan ekonomi yang sering digunakan untuk menghalalkan represi terhadap oposisi. mereka jenuh dicecoki dengan argumen-argumen yang sama tentang hubungan antar kaum dan kestabilan pemerintahan. media alternatif seperti internet dan koran oposisi menyadarkan mereka bahwa seringkali wacana itu digunakan untuk mengamankan pemerintah dari protes atas berlakunya oligarki dalam pemerintahan. wacana kestabilan dilihat untuk mengamankan kepentingan elit yang makin kaya dan makin kaya.

singkatnya mereka secara kritis melihat untuk kepentingan siapa kestabilan dan juga pertumbuhan ekonomi itu. Maklum lah BN sudah terlalu lama berkuasa dan di sana sudah terbentuk jaringan kekuasaan yang susah ditembus. kecuali mereka yang ada dalam lingkaran kekuasaan, kerabat politisi dan keluarga bekas-bekas PM, orang biasa semakin tidak punya akses untuk masuk ke kelas elit itu.

perlawanan terhadap keadaan demikian seolah menjadi model perjuangan, semangat baru, atau bahkan kebanggan baru bagi mereka. Mungkin sebuah heroisme baru bagi orang muda. ini nampak dari besarnya demo ini dan kini mereka tidak lagi menutup muka karena takut ditangkap. dalam sebuah tanggapan di blog, seorang pemuda menulis untuk pertamakalinya ia bangga sebagai orang Malaysia.

pada hari-hari mendatang kita akan melihat kemanakah angin akan bertiup dan suara akan berayun bila pilihan raya diadakan. demonstrasi ini bisa menjadi sebuah turning point bagi perubahan di Malaysia.

Monday, June 09, 2008

Human Security
Tertarik dengan Human Security. Ini ada link menarik http://humansecurityconf.polsci.chula.ac.th/final.html Ada paper saya juga. Tapi tentang wanita. Saya gak ngerti apa relevan tidak dengan human security, karena itu perlu dikritisi. Ingat ini bukan tulisan seorang feminis. Judulnya ', Promoting Women's Security as Human Security: Indonesian women attempt to find their place in the newly Indonesian democracy
Hubungan Malaysia-Indonesia
Silahkan dibaca di link ini ya. Kasih komentar, maklum ini baru pertama kali menulis dengan gaya konstruktivis-kontruktivisan. Di tempat saya sekarang belum ada yang menulis, ditempat lain banyak yang sudah memakai gaya ini. Di kampus saya yang lain, sudah ada juga sih. Tapi kami masih malu-malu... jadilah kami konstuktivis malu-malu. Tetapi mudah-mudahan tulisan ini tidak malu-maluin. Karena ini masukan adalah penting.
http://melayuonline.com/article/?a=aXFOL3FMZVZBUkU4Ng%3D%3D=

Sunday, January 20, 2008

Perjalanan ke Tanah Suci (3)

Perjalanan ke Tanah Suci (3)

Hari keberangkatan ke tanah suci pun menjelang. Bagi para calon jemaah haji, latihan dan training serta manasik haji telah dilakukan. Sebagian besar mereka ikut Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) dan sebagian lain mungkin mendapat pengarahan langsung dari Depag. Mereka mendapatkan segala pengarahan yang diperlukan sebelum keberangkatan. Umumnya ini adalah pengarahan praktis dan karena itu sebenarnya bisa dipelajari melalui buku-buku panduan dan sesekali ikut latihan prosesi dan manasik haji. Saya termasuk orang yang belakangan ini dan hanya ikut latihan manasik satu kali. Namun saya membaca buku-buku panduan dan juga buku tentang makna haji. Buku petunjuk teknis dan praktis haji banyak sekali tetapi tentang makna dan interpretasi tentang haji hampir tidak ada. Untuk buku yang terakhir ini satu-satunya yang bisa ditemui adalah karangan Ali Syariati berjudul Makna Haji.

Singkat cerita, alhamdulillah semua proses teknis administratif lancar -terimakasih kepada istri yang mengurus semua urusan saya sehingga saya tinggal berangkat. Kami rombongan dari daerah berangkat ke asrama haji dan menginap satu malam sebelum naik pesawat ke Jeddah esoknya. Sebetulnya dari sejak keberangkatan ini proses haji yang kompleks itu dimulai. Apa-apa yang sering dikeluhkan dalam pelaksanaan ibadah haji memang terjadi. Itu mulai dari akomodasi termasuk makan, transportasi dan pelayanan lainnya (yang insya Allah akan terlihat nanti).

Untuk menambah kompleksitas itu, dalam rombongan, ada berbagai macam orang dan kebanyakan mereka seperti dikatakan di atas adalah non-pegawai atau mereka yang memang bercita-cita untuk naik haji dengan mendalam. Kebanyakan mereka karena itu juga belum pernah naik pesawat terbang sekalipun, sehingga tidak tahu bagaimana memasang sabuk pengaman. Karena itu ada yang menirukan pramugari yang menjelaskan langkah-langkah kalau keadaan darurat dengan ikut memasang pelampung ke badannya.

Untuk mengatasi kompleksitas itu, kalau Anda ikut KBIH maka ada pengarahan untuk bersabar, bertawakkal, selalu berdoa dan berkonsentrasi. Ini adalah bagian dari menjadi haji mabrur, demikian pengarahan itu kira-kira berbunyi. Dengan bekal itu maka para jemaah diharap menahan diri dari perilaku mengeluh atau protes. Demikian lah, pengarahan itu cukup melekat untuk hari-hari keberangkatan dan beberapa hari di tanah suci. Pengarahan itu juga berlaku dalam berprilaku di negeri orang. Kebanyakan jemaah haji yang baru sekali berjalan-jalan jauh umumnya menerima semua arahan itu dengan sigap tanpa bertanya-tanya. Nah siapa yang diuntungkan dengan pengarahan ini? Silahkan jawab sendiri.

Perjalanan di pesawat kalau dari Surabaya ke Jeddah sekitar 9 jam 30 menit non-stop. Alhamdulillah itu ditempuh dengan lancar. Pesawatnya cukup nyaman, pelayanannya cukup bagus karena pramugari dan petugasnya tidak sinis, sangat profesional dan membantu bapak-ibu calon haji yang masih kagok dengan aturan di dalam pesawat. Maklumpara kru pesawat ini hampir semua mereka berasal dari luar negeri. Hanya satu dua dari Indonesia dan terima kasih, mereka tidak bertugas di tingkat atas pesawat, tempat kami duduk.

Kami berangkat dari Surabaya tengah hari dan tiba di Jeddah sebelum subuh. Setelah pemeriksaan imigrasi dan paspor disimpan petugas haji, para jemaah diberi tempat istirahat sebentar dengan lesehan di atas karpet dan sholat subuh. Di sebelah lain terlihat jamaah dari Turki (Turkiye - dalam tulisan yang saya baca) yang duduk di kursi dengan teratur rapi, mendapat pengarahan . Terlihat mereka diorganisir oleh agen perjalanan bukan oleh negara yang nampak dari atribut yang mereka pakai seperti kerudung.

Setelah sholat, tas koper kita cari sendiri kemudian oleh petugas dibawa ke bus masing-masing menuju Mekkah. Dalam perjalanan ini cerita yang hanya saya dengar selama ini ternyata benar. Konon, menurut sahibul hikayat, untuk memperlancar perjalanan maka para sopir di sana harus mendapat tip atau semacam uang agar sopir itu bekerja dengan baik. Ternyata cerita itu benar adanya. Pimpinan rombongan di tiap bus meminta tiap jemaah untuk urun 1 real agar sopir tidak ngambek dan akan mengendarai dengan baik. Entah kapan praktek itu dimulai tidak ada yang tahu, tapi nampaknya para sopir itu sudah mengerti dan para jemaah juga seperti sudah faham. Satu hal agaknya jelas bahwa praktek itu dimulai dan dibiasakan oleh orang Indonesia. Dan seterusnya setiap ada kegiatan yang menggunakan kendaraan, tiap jemaah seperti sukarela menyisihkan satu real untuk sang sopir yang umumnya senang bukan kepalang menerimanya seperti pengelana berjumpa air di padang pasir. Menurut cerita, sebenarnya para sopir itu sudah dibayar dan tidak perlu lagi ada tip. Tapi saya rasa itulah kepandaian orang Indonesia dalam mengekspor budaya.

Perjalanan Jeddah-Mekkah kurang lebih satu jam. Di kiri kanan memang yang nampak kebanyakan adalah batu-batu gunung yang besar dan gurun pasir. Tidak ada satupun memang yang bisa hidup di sana. Bagi mereka yang bercita-cita dengan sungguh2 dan berupaya dengan kuat ke sana, saat-saat yang menggetarkan segera tiba. Mereka tidak percaya sudah tiba di negeri impian dan sebentar mereka akan melihat Ka'bah. Sebagian mereka mulai terharu....

Sebelum itu, kita akan segera tiba di pondokan kita selama di Mekkah. Seperti apakah pondokan itu, mudahkan mencapai tempat itu, bagaimana sopir membawa kita ke sana, itu insya Allah di bagian berikutnya.

Semester Baru

Semester baru Ganjil mulai lagi sejak Senin 21 Agustus lalu. Walaupun tidak setiap minggu (karena mengajar dalam team), tetapi total kelas y...